Home Ekonomi Kawal Ketahanan Energi dari Banyuasin, Komut dan Dirut Pertamina Gelorakan One Pertamina

Kawal Ketahanan Energi dari Banyuasin, Komut dan Dirut Pertamina Gelorakan One Pertamina

5
Komisaris Utama PT. Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan melakukan kunjungan kerja ke Regional Sumatera Bagian Selatan. Foto: Ist/PTB

BANYUASIN — Komitmen terhadap keselamatan kerja dan integritas operasional kembali ditegaskan dalam lanjutan safari kunjungan kerja Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, ke Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Pada Kamis (23/7/2026), Iriawan membuka rangkaian Management Walkthrough (MWT) dengan hadir sebagai pembicara utama pada ajang Jambore HSSE yang berlangsung di kawasan historis Komperta Plaju, Sungai Gerong, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Di hadapan ratusan perwira Pertamina, pria yang akrab disapa Iwan Bule ini menyampaikan pengarahan mendalam terkait makna hakiki keberhasilan operasional perusahaan energi negara tersebut. Ia menegaskan bahwa pencapaian target produksi, ketepatan waktu proyek, efisiensi anggaran, hingga peningkatan laba tidak akan berarti jika mengabaikan aspek keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

“Bagi saya, sebuah operasi hanya dapat disebut berhasil apabila seluruh pekerja pulang ke rumah dengan selamat, seluruh fasilitas beroperasi secara andal, lingkungan tetap terjaga, dan kepercayaan masyarakat semakin kuat. Safety is not a priority, because priorities can change. Safety is a value,” tegas Mochamad Iriawan.

Membedah rekam jejak industri berisiko tinggi, Iriawan secara jujur merefleksikan dinamika operasional tahun sebelumnya yang memberikan pelajaran berharga bagi perusahaannya. Ia mengajak seluruh jajaran untuk tidak sekadar melihat faktor penyebab dasar (basic cause) seperti kelalaian inspeksi atau lemahnya supervisi, melainkan berani menyoroti akar masalah sistemik (systemic cause) di dalam tubuh organisasi.

Salah satu akar masalah utama yang digarisbawahinya adalah ketidakseimbangan antara tingginya beban pekerjaan dan kapasitas sumber daya manusia. Iriawan menggambarkan fenomena tersebut melalui sebuah analogi sederhana tentang manusia yang mencoba mengunyah terlalu banyak makanan sekaligus hingga akhirnya tersedak, sebuah kondisi yang sejatinya berisiko fatal bagi kelangsungan organisasi.

“Organisasi juga demikian. Kalau kita memaksakan terlalu banyak pekerjaan melampaui kapasitas organisasi, maka kita sedang menciptakan risiko yang sebenarnya bisa kita hindari. Focus creates excellence, overload creates risk,” jelasnya menekankan pentingnya proporsionalitas kerja.

Sebagai langkah konkret, Komut menyampaikan lima arahan strategis, yang mencakup keberanian menentukan prioritas, penguatan kapasitas organisasi sebelum ekspansi operasi, kepemimpinan nyata di lapangan (visible leadership), penguatan otoritas teknik yang independen (engineering authority), serta pembentukan sistem pembelajaran terintegrasi melalui One Pertamina Learning System.

Iriawan menutup arahannya dengan pesan menyentuh bahwa keselamatan kerja bukan sekadar pemenuhan program atau regulasi, melainkan nilai esensial untuk menjaga setiap jiwa dan keluarga yang menanti di rumah. Penekanan ini mempertegas arah transformasi budaya kerja Pertamina yang meletakkan faktor manusia di atas segala indikator finansial.

Senada dengan arahan Komut, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, yang turut hadir dalam momentum tersebut memberikan apresiasi atas tren positif indikator HSSE perusahaan hingga pertengahan tahun 2026. Kendati demikian, ia memberikan peringatan keras agar capaian tersebut tidak lantas memicu rasa puas diri yang semu bagi seluruh jajaran manajemen.

“Dalam HSSE, angka yang baik tidak boleh melahirkan rasa aman yang semu. Risiko tidak pernah beristirahat, ia hanya menunggu saat kita lengah. Budaya keselamatan tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh keputusan yang tetap benar, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang mengawasi,” tutur Simon Aloysius Mantiri.

Simon mengimbau seluruh pimpinan di lingkungan Pertamina Group untuk menjadikan kepastian kemampuan operasional (capability assurance) sebagai bagian integral dari strategi bisnis, serta memastikan konsistensi penerapan standar keselamatan hingga ke tingkat kontraktor dan mitra kerja di lapangan.

Rangkaian pembukaan Jambore HSSE tersebut ditutup dengan peninjauan lapangan secara langsung oleh jajaran Dewan Komisaris dan Direksi. Unsur pimpinan Pertamina menyaksikan simulasi fire ground yakni penanganan kebakaran yang disajikan secara sigap oleh para perwira Pertamina yang terdidik dan profesional.

Atraksi ketangkasan dan kesiapsiagaan tersebut menjadi bukti nyata bahwa kesiapan teknis dan kepemimpinan yang solid di lapangan merupakan fondasi utama dalam menjaga ketahanan energi nasional yang aman, terukur, dan berkelanjutan.

Hadir pula pada kegiatan itu Komisaris independen PT Pertamina (persero)Condro Kirono, Direktur SDM Andy Arvianto, Dirut PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Mars Ega Legowo Putra, SVP HSSE PT Pertamina (Persero) I Ketut Laba.

(etw)